Leonardo Bonucci
Leonardo Bonucci menimba ilmu sepak
bola di akademi Inter Milan. Sayang, saat beranjak dewasa, dia
kesulitan menembus tim utama. Pada periode 2005-2009, dia hanya tampil
satu kali.
Karier Bonucci baru bersinar saat bergabung dengan Bari, kemudian Juventus pada 2010. Bersama Juventus, pemain kelahiran 1 Mei 1987 ini tumbuh menjadi benteng yang kuat di lini pertahanan.
Robbie Keane
Saat Inter Milan mendatangkan Robbie
Keane pada tahun 2000, banyak pendukung mereka mengernyitkan dahi.
Pasalnya, selain datang dari klub kecil Inggris, Coventry City, harga
Keane juga lumayan mahal, sekitar 15 juta euro. Kekhawatiran tifosi jadi
kenyataan. Semusim membela Inter, Keane hanya tampil enam kali dan
kemudian dipinjamkan ke Leeds United. Ternyata, Leeds menjadi pintu
gerbang bagi karier Keane selanjutnya. Karena, setelah membela
Leeds, karier Keane kian menjulang. Terutama saat membela Tottenham
Hotspur, di mana Keane mencetak total 80 gol. Keane juga sempat membela
klub elite Inggris lainnya, Liverpool, sebelum hijrah ke Amerika
Serikat, bergabung dengan LA Galaxy.
Paling akhir, di usianya yang telah mencapai 35 tahun, Keane sukses membawa negaranya lolos ke putaran final Piala Eropa 2016 Prancis. Total 21 gol yang dicetak Keane di kualifikasi Piala Eropa membuatnya mengungguli Hakan Sukur (20 gol) pemegang rekor pencetak gol terbanyak di ajang kualifikasi Piala Eropa.
Andrea Pirlo
Kepergian Andrea Pirlo ke rival sekota
AC Milan, tentu sangat menyakitkan bagi tifosi Inter Milan. Lebih
menyakitkan lagi, performa Pirlo ternyata terus menjulang bersama Milan.
Padahal, saat di Inter (1998-2001), penampilannya bisa dibilang biasa
saja.
Di Milan, Pirlo menjadi legenda. Pada periode 2001-2011, dia jadi andalan I Rossoneri di lini tengah. Dia memainkan peran sebagai deep-lying playmaker, posisi baru yang ditemukan pelatih Carlo Ancelotti untuknya.
Bersama Milan, Pirlo memenangkan dua gelar scudetto dan gelar Liga Champions. Di tim nasional Italia, nama Pirlo juga berkibar. Dia jadi salah satu penentu saat Italia jadi juara Piala Dunia 2006 di Jerman.
Bahkan, saat usianya tak muda lagi, Pirlo masih mampu memperlihatkan sihirnya bersama Juventus, saat memenangkan empat scudetto berturut-turut.
Dennis Bergkamp
Saat direkrut Inter Milan pada 1993,
Dennis Bergkamp telah menjadi bintang di Ajax Amsterdam. Bersama klub
asal Belanda itu, Bergkamp salah satunya memenangkan Piala Winners Eropa
1986/87. Dia juga menjadi pencetak gol terbanyak tiga musim
berturut-turut di Eredvisie, 1990/91, 1991/92, dan 1992/937
Namun, kehebatannya begitu saja sirna saat berseragam Inter Milan. Dalam dua musim Serie A, Bergkamp hanya mampu mencetak 11 gol. Inter pun lalu menjualnya ke Arsenal pada 1995.
Di Arsenal, nama Bergkamp kembali menjulang. Sebelas tahun membela Arsenal, tiga gelar Liga Primer dia persembahkan untuk The Gunners, plus tampil jadi finalis Liga Champions 2005/06, sebelum kalah 1-2 dari Barcelona.
Bergkamp sendiri menjadi idola publik Stadion Highbury, stadion kandang Arsenal. Untuk mengenang jasanya, manajemen Arsenal membuat patung Bergkamp di luar Emirates, stadion yang sejak 2006/07 digunakan sebagai kandang Arsenal.
Roberto Carlos
Setelah membeli Roberto Carlos dari
Palmeiras tahun 1995, Inter langsung menjualnya ke Real Madrid, semusim
kemudian. Keputusan Inter ternyata keliru. Sebab, bersama Madrid, karier
Carlos langsung menjulang.
Carlos, ketika itu disebut-sebut sebagai bek kiri terbaik dunia. Dia memiliki kemampuan bertahan yang kuat dan naluri menyerang tinggi. Sering kali dia membantu serangan lewat sayap dan mengirim crossing untuk rekan penyerang.
Salah satu kelebihan lain Carlos adalah tendangan bebasnya yang luar biasa keras.Salah satu momen yang akan selalu dikenang penggemarnya adalah saat bersama Brasil, Carlos membuat gol lewat tendangan geledeknya ke gawang Prancis di ajang Turnoi deFrance, 1997.
Carlos sendiri cukup lama mengabdi di Madrid, mulai 1996 hingga 2007. Bersama Madrid, dia memenangkan empat gelar La Liga dan tiga Liga Champions.
Philippe Coutinho
Didatangkan ke Giuseppe Meazza pada tahun 2010, Coutinho hanya mampu tampil 28 kali dan mencetak 3 gol. Lalu ia sempat dipinjamkan ke Espanyol pada tahun 2012. Pada tahun 2013, Liverpool meminangnya dan sekarang Anda bisa lihat hasilnya. Ia bahkan menjadi salah satu pemain yang paling diincar tim raksasa Eropa termasuk Barcelona!
Sumber:
http://bola.liputan6.com/read/2444683/5-bintang-bersinar-usai-dilepas-inter-milan

Karier Bonucci baru bersinar saat bergabung dengan Bari, kemudian Juventus pada 2010. Bersama Juventus, pemain kelahiran 1 Mei 1987 ini tumbuh menjadi benteng yang kuat di lini pertahanan.
Robbie Keane

Paling akhir, di usianya yang telah mencapai 35 tahun, Keane sukses membawa negaranya lolos ke putaran final Piala Eropa 2016 Prancis. Total 21 gol yang dicetak Keane di kualifikasi Piala Eropa membuatnya mengungguli Hakan Sukur (20 gol) pemegang rekor pencetak gol terbanyak di ajang kualifikasi Piala Eropa.
Andrea Pirlo

Di Milan, Pirlo menjadi legenda. Pada periode 2001-2011, dia jadi andalan I Rossoneri di lini tengah. Dia memainkan peran sebagai deep-lying playmaker, posisi baru yang ditemukan pelatih Carlo Ancelotti untuknya.
Bersama Milan, Pirlo memenangkan dua gelar scudetto dan gelar Liga Champions. Di tim nasional Italia, nama Pirlo juga berkibar. Dia jadi salah satu penentu saat Italia jadi juara Piala Dunia 2006 di Jerman.
Bahkan, saat usianya tak muda lagi, Pirlo masih mampu memperlihatkan sihirnya bersama Juventus, saat memenangkan empat scudetto berturut-turut.
Dennis Bergkamp

Namun, kehebatannya begitu saja sirna saat berseragam Inter Milan. Dalam dua musim Serie A, Bergkamp hanya mampu mencetak 11 gol. Inter pun lalu menjualnya ke Arsenal pada 1995.
Di Arsenal, nama Bergkamp kembali menjulang. Sebelas tahun membela Arsenal, tiga gelar Liga Primer dia persembahkan untuk The Gunners, plus tampil jadi finalis Liga Champions 2005/06, sebelum kalah 1-2 dari Barcelona.
Bergkamp sendiri menjadi idola publik Stadion Highbury, stadion kandang Arsenal. Untuk mengenang jasanya, manajemen Arsenal membuat patung Bergkamp di luar Emirates, stadion yang sejak 2006/07 digunakan sebagai kandang Arsenal.
Roberto Carlos

Carlos, ketika itu disebut-sebut sebagai bek kiri terbaik dunia. Dia memiliki kemampuan bertahan yang kuat dan naluri menyerang tinggi. Sering kali dia membantu serangan lewat sayap dan mengirim crossing untuk rekan penyerang.
Salah satu kelebihan lain Carlos adalah tendangan bebasnya yang luar biasa keras.Salah satu momen yang akan selalu dikenang penggemarnya adalah saat bersama Brasil, Carlos membuat gol lewat tendangan geledeknya ke gawang Prancis di ajang Turnoi deFrance, 1997.
Carlos sendiri cukup lama mengabdi di Madrid, mulai 1996 hingga 2007. Bersama Madrid, dia memenangkan empat gelar La Liga dan tiga Liga Champions.
Philippe Coutinho

Sumber:
http://bola.liputan6.com/read/2444683/5-bintang-bersinar-usai-dilepas-inter-milan
loading...
0 Response to "6 BINTANG BERSINAR USAI DILEPAS INTER MILAN"
Post a Comment